Okebozz.Com | JSCgroupmedia ~ Dunia pendidikan kedokteran, yang seharusnya menjadi tempat pembentukan para profesional medis yang berkualitas, kini tengah dihadapkan pada isu yang meresahkan, yaitu praktik perundungan di lingkungan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri).
Kasus ini mengundang perhatian publik setelah dilaporkan bahwa mahasiswa PPDS diminta untuk mengumpulkan uang dengan jumlah yang sangat besar setiap bulannya untuk kebutuhan pribadi senior mereka.
Menurut Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan (Kemkes) Azhar Jaya, uang yang terkumpul dari para mahasiswa dapat mencapai Rp 15 juta per bulan.
Praktik ini dilakukan dengan cara mahasiswa yang lebih junior harus memberikan kontribusi untuk “membayar” berbagai kebutuhan pribadi senior mereka, termasuk makan bersama dan keperluan-keperluan lainnya.
Azhar Jaya menegaskan bahwa dana tersebut dikumpulkan oleh bendahara dan disalurkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang tidak ada kaitannya langsung dengan pembelajaran atau kegiatan akademik.
“Besarannya rata-rata kalau enggak salah Rp 15 juta per bulan. Dikumpulin ke bendaharanya dan dipakai untuk bayar makan-makan, keperluan seniornya kayak gitu-gitu lah,” ujar Azhar Jaya saat ditemui di Jakarta pada Kamis, 15 Januari 2026.
Praktik ini, yang oleh banyak pihak dianggap sebagai bentuk perundungan, mengungkapkan sisi gelap dalam pendidikan kedokteran yang selama ini tidak banyak disorot.
Perundungan yang terjadi dalam konteks ini bukan hanya merugikan mahasiswa yang menjadi korban, tetapi juga menciptakan atmosfer ketidakadilan dan tekanan yang bisa berdampak buruk bagi perkembangan profesional mereka di masa depan.
Penghentian Sementara Kegiatan PPDS Unsri di RSUP Mohammad Hoesin Palembang
Akibat dari dugaan perundungan yang terjadi di lingkungan PPDS Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Unsri, kegiatan pendidikan spesialis di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Mohammad Hoesin Palembang terpaksa dihentikan sementara.
Langkah ini diambil untuk memberikan waktu bagi pihak universitas dan pihak berwenang untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut dan memastikan bahwa tidak ada lagi praktik-praktik yang merugikan dan tidak etis di lingkungan pendidikan tersebut.
Menurut pihak RSUP Mohammad Hoesin Palembang, penghentian kegiatan PPDS ini dilakukan untuk menjaga kualitas pendidikan serta memberikan rasa aman dan nyaman bagi semua mahasiswa yang terlibat dalam program spesialisasi ini.
Hal ini juga menjadi langkah konkret dari pihak universitas dan rumah sakit untuk menunjukkan bahwa mereka tidak mentolerir segala bentuk perundungan, apalagi yang berkaitan dengan praktik tidak etis yang mencederai martabat sesama insan pendidikan.
Penyelidikan terkait dugaan perundungan ini juga melibatkan beberapa pihak terkait, baik dari Fakultas Kedokteran Unsri, Kementerian Kesehatan, maupun lembaga-lembaga independen yang berfokus pada hak-hak mahasiswa dan kesejahteraan tenaga medis.
Pihak universitas pun telah mengonfirmasi bahwa mereka akan menindak tegas jika terbukti ada praktik perundungan yang merugikan mahasiswa di lingkungan mereka.
Melihat Dampak Sosial dan Psikologis dari Perundungan dalam Dunia Pendidikan Kedokteran
Kasus perundungan yang terjadi di PPDS Unsri ini membuka mata banyak pihak akan pentingnya menjaga kualitas hubungan antar mahasiswa dan dosen di dalam dunia pendidikan, terutama pendidikan kedokteran yang memiliki tantangan dan tekanan tersendiri.
Perundungan dalam dunia pendidikan kedokteran sering kali dikemas dalam bentuk yang tidak langsung terlihat sebagai kekerasan fisik, namun lebih kepada intimidasi psikologis, diskriminasi, serta ketidakadilan yang dihadapi mahasiswa.
Dalam konteks ini, pengumpulan uang oleh mahasiswa untuk kebutuhan pribadi senior mereka tidak hanya menciptakan rasa ketidakadilan, tetapi juga dapat berdampak negatif pada kesehatan mental mahasiswa.
Tekanan untuk memberikan uang dengan jumlah yang sangat besar dapat membuat mahasiswa merasa tertekan, takut, dan tidak memiliki ruang untuk menyuarakan ketidaksetujuan mereka.
Hal ini jelas berpotensi merusak atmosfer pembelajaran yang seharusnya mendukung pertumbuhan pribadi dan profesional mahasiswa kedokteran.
Dampak jangka panjang dari praktik perundungan ini bisa sangat luas, mulai dari menurunnya motivasi belajar, munculnya rasa apatisme terhadap pendidikan, hingga mempengaruhi kualitas interaksi antara tenaga medis di dunia kerja nantinya.
Profesionalisme yang seharusnya dimiliki oleh seorang dokter spesialis bisa tercederai karena pengalaman negatif yang mereka dapatkan selama menjalani pendidikan.
Dalam hal ini, sudah seharusnya pihak universitas dan rumah sakit tidak hanya menindaklanjuti kasus perundungan ini, tetapi juga melakukan langkah-langkah preventif agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Tanggapan dan Langkah Kemkes dalam Menanggulangi Perundungan di Lingkungan Pendidikan Kedokteran
Menanggapi kasus perundungan yang terjadi di PPDS Ilmu Kesehatan Mata Unsri, Kemkes melalui Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Azhar Jaya menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari segala bentuk perundungan.
Kemkes juga menekankan bahwa setiap pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan kedokteran, baik dosen, mahasiswa, maupun pihak rumah sakit, harus memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya etika dan rasa saling menghormati.
“Kami ingin mengingatkan semua pihak untuk selalu menjaga etika, profesionalisme, dan integritas dalam dunia pendidikan kedokteran.
Perundungan dalam bentuk apapun, baik itu fisik, psikologis, atau bahkan dalam bentuk pengumpulan uang seperti ini, tidak bisa dibiarkan.
Kesehatan mental dan fisik mahasiswa harus dijaga dengan baik, karena mereka adalah aset masa depan dunia medis,” tegas Azhar Jaya.
Kemkes juga merencanakan untuk memperkenalkan kebijakan baru terkait pengawasan yang lebih ketat terhadap lingkungan pendidikan kedokteran, termasuk membentuk saluran pengaduan yang lebih mudah diakses oleh mahasiswa, serta memberikan pelatihan kepada dosen dan senior untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya menjaga lingkungan pendidikan yang aman dan mendukung.
Solusi dan Langkah Preventif untuk Mengatasi Perundungan di Dunia Pendidikan Kedokteran
Menghadapi perundungan dalam dunia pendidikan kedokteran memerlukan kerjasama yang erat antara berbagai pihak, mulai dari universitas, rumah sakit, hingga pemerintah.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah terulangnya kasus serupa antara lain:
- Pendidikan tentang Etika dan Profesionalisme: Menanamkan nilai-nilai etika yang kuat pada mahasiswa sejak dini, sehingga mereka memahami betul pentingnya hubungan yang saling menghormati dalam dunia kedokteran. Dosen dan tenaga pendidik lainnya juga perlu mendapatkan pelatihan untuk menangani konflik dengan bijaksana.
- Saluran Pengaduan yang Aman: Menyediakan saluran pengaduan yang aman bagi mahasiswa untuk melaporkan perundungan atau ketidakadilan yang mereka alami, tanpa takut mendapat balasan buruk atau diskriminasi.
- Pemantauan Ketat terhadap Kegiatan PPDS: Pihak universitas dan rumah sakit perlu melakukan pemantauan yang lebih ketat terhadap kegiatan yang berlangsung di lingkungan PPDS. Hal ini untuk memastikan bahwa kegiatan yang dilakukan selalu sesuai dengan standar etika pendidikan.
- Mengurangi Beban Finansial yang Tidak Wajar: Memberikan perhatian lebih terhadap aspek keuangan mahasiswa PPDS, sehingga mereka tidak terpaksa membayar sejumlah uang untuk keperluan pribadi senior yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan atau pengembangan profesi mereka.
Membentuk Generasi Kedokteran yang Lebih Baik
Kasus perundungan yang terjadi di PPDS Ilmu Kesehatan Mata Universitas Sriwijaya adalah sebuah pengingat bahwa dunia pendidikan kedokteran harus lebih responsif terhadap isu-isu yang berkaitan dengan kesejahteraan mahasiswa.
Perundungan dalam bentuk apapun tidak boleh dibiarkan, karena dapat merusak potensi dan masa depan generasi muda yang akan menjadi tenaga medis di masa depan.
Dengan langkah-langkah yang lebih tegas, transparan, dan mendalam dalam mengatasi masalah ini, diharapkan dunia pendidikan kedokteran bisa berkembang menjadi lingkungan yang lebih inklusif, profesional, dan penuh empati.
Para mahasiswa tidak hanya dibekali dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga dengan sikap dan nilai-nilai yang akan membentuk mereka menjadi dokter yang humanis dan memiliki integritas tinggi dalam melayani masyarakat. | Okebozz.Com | */Redaksi | *** |


1 Comment
oke